Di Antara Ribuan Basa-basi yang Ada, Kenapa sih Harus Bilang “Kamu Gendutan ya?”

Orang Indonesia memang populer dengan orang-orangnya yang ramah dan murah senyuman. Karena sangat ramahnya, terkadang kita kerap mengulas beberapa hal yang sesungguhnya tidak penting. Memang sich, basa-basi itu perlu walaupun sebatas menanyakan “Apa kabarmu?”. Saat kita lama tidak temu dengan rekan dan di satu waktu kita berjumpa dengannya, tanpa sadar bibir ini kerap berbicara “Kamu lebih gendut ya.” atau kamu adalah ‘korban’ basa-basi pembicaraan.

Saat disebut rekan “Kamu lebih gendut ya.” rasanya sich biasa saja, tetapi demikian pisah hati tidak nikmat mulai tampil. Dari demikian kata panggilan yang dapat dipakai, mengapa panggilan yang menyentuh fisik harus dipakai. Walau faktanya saya memang makin bertambah gendut, bukan bermakna saya perlu ‘klarifikasi’ darimu.

Iya saya tahu tubuhku memang tidak ramping, kemungkinan condong berisi. Tetapi bukan bermakna kamu dapat dengan bebas ‘memperjelasnya’ di hadapanku. Saya seutuhnya sadar jika saya bukan type wanita yang ingin ribet berdiet dan lakukan bermacam larangan makan supaya performa langsing terbentuk. Dan dengan melemparkan panggilan “Kamu gemukan” padaku tidak akan mengunggah hatiku untuk secepat-cepatnya mengurusikan tubuh, sebab saya rileks dan menyukai diriku sendiri.

Dan memberi komentar mengenai badanku yang lebih gendut tidak akan membuat kamu kurusan 5kg lho. Kemungkinan sich akan membuat kamu ‘merasa’ kurusan, tetapi faktanya tubuhmu akan masih begitu. Jadi saat memberi komentar “Kamu gemukan” tidak bawa faedah, seharusnya hal ini kamu meninggalkan.