Nggak Semua yang Palsu itu Buruk. Penelitian Ungkap Senyum Palsu Nyatanya Bisa Picu Suasana Positif dalam Diri

Pernah tidak sich, kamu lakukan suatu hal yang dipaksanya? Seperti tersenyum misalkan. Walau berkesan simpel untuk dilaksanakan, senyuman tidak setiap saat dapat datang di bibir. Akhirnya, kita terkadang memaksain bibir mengeluarkan senyuman walau sedang tidak pengin. Misalnya saat dipanggil rekan saat bad mood, atau waktu situasi hati sedang berduka. Kita biasa mengatakan senyuman palsu.

Walau demikian, senyuman palsu itu bukanlah tidak berarti loh. Kecuali dapat memberikan penghiburan pada diri kita yang lagi berduka, membuat senyuman palsu kenyataannya dapat pacu situasi positif pada diri. Bukti ini telah ditunjukkan oleh periset melalui hasil riset dalam jurnal dengan judul Experimental Phsycology dan diedarkan di situs Hogrefe pada 11 Mei 2020. Nah, untuk kamu yang sejauh ini engan berpura-pura tersenyum sebab menganggap tidak ada fungsinya, merilis dari IFL Science, berikut Hipwee Motivasi kumpulkan keterangan bagaimana rupanya dia dapat berguna.

Dalam jurnal Experimental Physcology, team periset dari University of South Australia menjelaskan jika berpura-pura tersenyum bisa mempengaruhi sisi otak yang terkait dengan situasi hati. Mereka menerangkan senyuman palsu pada intinya bisa menipu pemikiran kita untuk terima air muka dan bahasa badan seseorang lebih positif, yang selanjutnya tingkatkan situasi hati kita sendiri. Disini minimal kita dapat bermufakat jika arti “bersandiwara lah sampai kau lupa sedang bersandiwara” dapat berlangsung.

Lewat risetnya, beberapa periset ini bereksperimen dengan kumpulkan sekolompok peserta dan minta mereka untuk menempatkan pulpen antara gigi. Ini secara akan langsung memaksakan muka untuk tersenyum. Kamu bisa loh, coba gigit pulpen. Tentu mukamu saat ini seolah tengah tersenyum. Nah, kemudian beberapa peserta disuruh untuk memandang gestur dan pergerakan seseorang, berganti-gantian waktu mengigit pulpen atau kebalikannya.