Catatan untuk Diriku yang Tak Seelok Gadis di Layar Kaca. Percayalah Kamu juga Istimewa

Saya memahami kita ini mempunyai hati memiliki volume kecil yang entahlah kenapa susah sekali menyimpan rasa yakin pada raga sendiri. Sering kali ada pemikiran jelek dan rendah diri yang berjubalan menanti untuk diolah. Yang selanjutnya cuman akan memunculkan tumpukan rasa sedih dalam diri ini.

Karena itu, menyengaja kutuliskan catatan simpel ini untukmu, diriku sendiri. Kamu dapat membacanya kembali dan kembali saat rasa optimis yang kamu punyai mulai tergerus dan tipis. Dan mungkin saja catatan kecil ini sanggup temani saat kamu sedang demikian capek dibantai kondisi dan pengin kembali dikuatkan.

Memang kita tidak tercipta dengan kecantikan mengagumkan bak tuan puteri di buku narasi. Kaki-kaki yang kita punyai juga tidak sejenjang dan seputih beberapa mode yang umum kita lihat di monitor kaca. Begitupun dengan badan yang membingkai raga ini. Tidak ada lekukan ala-ala gitar spanyol seperti yang umum orang deskripsikan akan badan prima seorang wanita. Bila tidak begitu kurus kita malah kerap kelebihan timbunan lemak yang malas bersembunyi di bawah pakaian.

Saya memahami benar bagaimana rasa iri tanpa suara kerap menyelusup masuk, yang selanjutnya dituruti dengan rasa rendah diri yang pilih untuk duduk diam diri dalam lipatan hati. Ah, jika sudah ini, kamu dan saya, kita, tentu suka sekali menyesali kondisi diri. Menyesali muka kita yang tidak secantik mode sabun muka, atau raibnya rasa optimis sebab kulit yang tidak putih dan mulus seperti pantat bayi.

Diriku, tahukah kamu, repot sedih dan mengeluhi nasib diri tidak mempermudah langkahmu menjejaki jalan ke hari esok. Oleh sebab hal itu, beban yang menggelayuti kakimu ini hari dan keesokan hari akan semakin makin bertambah berat.

Rasa rendah diri memang sering melawat, ia selalu memaksakan masuk tanpa izin. Ia yang membuat optimis tergerus dan pilih pergi entahlah ke mana. Ya, jika sudah ini, kita selanjutnya repot bermuram diri dan tersuruk sendiri. Berasa hidup ini tidak adil dan berasa diri ini banyak minimnya dan tidak berasa berbahagia.

Cerita 5 Guru Honorer Tentang Gaji yang Tak Turun dan Alasan Mereka Tetap Bertahan

Beberapa lalu saya sempat membaca cerita guru honorer di Konawe Selatan yang perlu jalan kaki 11 km sehari-harinya untuk mengajarkan. Dengan upah Rp300.000/bulan yang cuman diterima tiga bulan sekali, beli kendaraan untuk pengerahan setiap hari begitu berat untuknya. Lantas di Bengkulu dan Pontianak, ada pula guru honorer yang dibayarkan dengan beberapa kg beras dan perkataan terima kasih. Cerita-kisah itu cuma beberapa kecil dari tepian dunia pengajaran kita yang mengundang risau.

Dengan rintangan seberat itu, dan pendapatan yang serupa sekali yang tidak sebanding, kemungkinan kita jadi bertanya: Kok ingin bertahan? Berikut lima guru menceritakan mengenai senang duka jadi guru honorer dan mengapa mereka bertahan walau upah baru turun 3 bulan sekali.

Sejauh ini kita memikir jika mengajarkan di sekolah swasta pendapatannya semakin tinggi dibandingkan di sekolah negeri. Tetapi, rupanya tidak selalu demikian. Untuk sekolah ke bawah yang tingkat menengah ke bawah, jadi guru honorer di situ sama juga dengan sekolah negeri. Honor dihitung perjam mengajarkan, dengan nominal yang tidak berapa besar.

Beberapa lalu, bekas menteri pengajaran Muhadjir Effendy sempat keluarkan pengakuan yang polemis: “Jika saat ini upahnya sedikit, apa lagi guru honorer, cicipi saja, kelak masuk surga.” Penglihatan ini terang membuat prihatin. Memang, guru ialah karier mulia yang pekerjaannya mencerdaskan anak negeri. Tetapi karier guru punyai keharusan dan tanggung jawab yang demikian besar. Tidakkah sepantasnya hal tersebut lebih dihargai dan dipandang kembali?

Jika ditanyakan, mengapa sich masih ingin jadi guru honorer, jika apresiasinya umumnya tidak pantas? Kemungkinan tiap orang punyai jawaban sendiri-sendiri. Ada yang suka mengajarkan dan berjumpa siswa dan rekanan pendidik lain cukup menyenangkan hati. Hingga upah yang tidak berapa tidak begitu memberatkan. Banyak pula yang mau tak mau terima keadaan ini, karena tidak dapat melakukan perbuatan apa-apa. Ini adalah tingkatan yang perlu dilalui, sambil mengharap hari esok mereka makin lebih dihargai kembali.

Menikah Bukan Solusi Masalah Kehidupan. Tak Perlu Buru-buru Jika Alasanmu Cuma itu

Entahlah kenapa di jaman yang super repot sekarang ini, pertimbangan usang mengenai diadakannya satu pernikahan masih menghantui. Beberapa orang, terutamanya golongan muda, masih berpikir untuk mengadakan pernikahan selaku jalan keluar atas semua kasus kehidupan. Seperti gelanggang pelarian untuk pergi dari beberapa masalah yang lagi ditemui. Ya, memang pernikahan ialah bahtera yang bawa manusia melalui utuhnya kehidupan. Tetapi, tidakkah melalui lautan harus bertemu dengan badai dan gelombang garang.

Tidak ada seorangpun yang tidak sepakat jika menikah ialah kejadian keramat. Manusia mengawalinya tidak dengan permasalahan, tetapi dengan karunia dan karunia. Dan mustahil ada di bumi ini, seorang nahkoda yang melaut cuman untuk menghindar garangnya topan badai. Jikapun begitu, bukan mustahil ia akan salah jalan dan kewalahan di tengah-tengah lautan.

Ada waktu di mana kita rasakan kosong yang mengagumkan hampa. Seolah-olah, segalanya jadi benar-benar rahasia dan tidak memiliki kandungan sedikitpun panduan akan apa yang berlangsung. Tiap kasus tiba silih bertukar : dari upah yang tidak juga meninggi sampai orang paling dekat yang malas pahami. Kisah keesokan hari terasanya demikian kabur tidak berpendar jelas sedikitpun. Di lain sisi, rekan-rekan mempunyai kasusnya sendiri. Tanpa kembali pelabuhan untuk bertumpu kecuali pasangan.

Pernikahan jadi jawaban yang demikian saja tampil. Satu kendaraan untukmu bawa pergi akan semua kasus yang menyelimutinya. Walau sebenarnya, bahtera rumah tangga bukan jawaban atas semua masalah yang menegur berganti-gantian. Didalamnya, gulungan ombak terus akan tiba mengadang. Berikut perangkap imajinasi yang cukup beresiko. Karena, manusia selalu cari jalan singkat. Cepat sampai sekalian cepat jemu.

Kasus yang berganti-gantian itu belum ditambah lagi desakan sosial dari orang sekeliling. Pernikahan seolah-olah cuman salah satu penanda kedewasaan. Ya, betul ada jika pelaminan akan bawa manusia pada perubahan personalitas. Tetapi, itu bukan salah satu. Nahasnya, beberapa orang menterjemahkan itu selaku yang khusus. Dan karena hanya pengin menjawab semua pertanyaan retoris itu, banyak pasangan selekasnya langsungkan pernikahan. Argumennya juga simpel

Rasanya Jadi Cewek yang Suka Melakukan Apa pun Sendiri. Bukannya Antisosial atau Tak Punya Teman

Tiap ada ajakan lakukan suatu hal, kami memang jarang-jarang ikut-ikutan. Kemungkinan jika dipersentasikan, dari 10 ajakan, cuman sekali 2x kami menyetujui. Bekasnya, kami selalu tidak mau ikut-ikutan. Sebab tidak ingin sakiti hati mereka yang ajak, kami sampai menyelipkan kata maaf. Terkadang kami sampai harus menerangkan panjang lebar mengapa kami tidak mau ikut-ikutan. Tetapi tetap, kalian sembunyi-sembunyi menandai kami selaku makhluk anti sosial ada di belakang.

Dear rekan-rekan, sesungguhnya kamu sama juga seperti kalian. Kami masih manusia biasa yang penting kedatangan kalian di kehidupan. Tetapi ada saatnya kami lebih senang lakukan semua sesuatunya sendirian. Kemungkinan beberapa hal di bawah ini makin lebih menerangkan, kenapa kami lebih senang lakukan suatu hal sendirian.

Di bumi ini ada hitam dan putih. Ada siang dan malam. Ketidaksamaan itu membuat dunia dapat berputar-putar semakin nyaman. Tetapi kelihatannya ketidaksamaan antara manusia sering kali memunculkan permasalahan. Seperti waktu kalian demikian nikmati kebersama-samaan di bawah tawa gurih dan senda canda bersama, kami malah kebalikannya. Kami berasa kurang nyaman bila semakin lama terjerat dalam keramaian. Jadi, bersediakan kalian terima dan tidak menandai kekhasan kami yang tidak senang dengan keramaian ini?

Lakukan suatu hal ramai-ramai umumnya memerlukan waktu untuk menanti. Menanti mereka yang belum tiba, yang kerjanya belum selesai, sampai belum punyai kemauan untuk pergi. Kelamaan menanti semacam ini terang akan menghabiskan waktu. Dan minta maaf, kami belum ingin kelamaan menanti semacam ini.

Terkadang sendiri itu lebih asyik lho lewat unsplash.com

Ah, tidak asyik!

Iya, kami terkadang kurang asyik seperti kata kalian. Tetapi tidak asih bukan bermakna kami tidak mau bergaul. Kami masih manusia yang perlu kedatangan kalian semua. Tetapi kesempatan ini perkenankan kami lakukan hal yang menjadi rutinitas ini. Karena kami menghargai rutinitas kalian entahlah apa saja itu kan?

Untukmu yang Selama Ini Banyak Jajan, Terima Kasih Sudah jadi Perpanjangan Tangan Tuhan

Silahkan sedikit melihat ke belakang, bernostalgia begitu kamu banyak jajan dan apa yang sudah kamu membeli selama saat di dalam rumah saja. Bergelas-gelas minuman boba, kopi modern yang semakin banyak gulanya, sampai makanan apa saja yang ada mentainya. Dan tidak hanya makanan, tetapi juga jajan beberapa barang gemes, ikan cupang bahkan juga tanaman! Iya, kamu jadi salah seseorang yang keracunan tanaman. Kamar atau rumahmu yang dahulunya sepi, sekarang makin bertambah anggota, karena ada hijau-hijau yang beri kesegaran mata.

Apa saja yang telah kamu beli-entah dengan kesadaran penuh atau hasil khilaf di tengah-tengah malam-di tiap jajanmu itu ada beberapa orang yang terbantu. Karena dari satu gelas boba atau satu pot monstera, tanpa sadar kamu sudah lakukan kebaikan untuk sama-sama. Tidak yakin, silahkan Hipwee terangkan mengapa~

Wabah mengganti segala hal. Tidak cuman masalah gaya hidup sehat, tetapi juga skema jajan yang semakin tidak tertahan banyaknya. Jika dahulu kamu selalu meredam-nahan untuk jajan, sekarang jajan jadi sama keutamaan seperti sandang, pangan dan papan. Saat ini tidak perlu menyesali telah berapakah juta kali kamu jajan maaf lebay, tetapi memang jajanmu telah tidak terhitung kan!?, tetapi tahukah kamu jika dibalik jajanmu itu sudah menolong banyak pebisnis kecil?

Banyak UMKM yang awalannya sepi dan pengin berserah, tetapi karena pesanan dan satu Instastory-mu, mereka bangkit kembali dan berbenah. Roda kehidupan yang awalannya lemas dan pengin stop, karena badmood-mu dan khilaf beli, jadi dapat bergerak kembali.

6 Kebaikan yang Akan Kamu Dapatkan, Kalau Sehari Saja Nggak Marah-marah

Geram adalah karakter alami manusia. Tiap orang tentu pernah geram. Khususnya waktu ada sesuatu hal yang tidak sesuai kehendaknya, suatu hal yang membuat sedih, sakit, dan lain-lain. Geram memang memberi dampak lega waktu kamu membludakkan semua emosi yang menjejal dalam dada. Dada terasanya plong sebab semua beban keluar semua.

Tetapi walau demikian, sering geram tidak bagus untuk diri. Tidak hanya permasalahan kesehatan, permasalahan psikis dan kehidupan sosial akan terusik jika kamu kerap geram-marah. Coba untuk lebih sabar. Belajarlah untuk meredam kemarahan barang satu hari saja.

Meredam geram dalam satu hari bagus untuk kesehatanmu. Karena banyak riset yang menjelaskan jika geram-marah berpengaruh jelek dalam tubuh. Merilis Kompas, dampak negatif geram untuk kesehatan diantaranya membuat sakit di kepala, tekanan darah tinggi, stres, sampai permasalahan pencernaan.

Bahkan juga berdasar riset terkini yang diterbitkan dalam The European Heart Journal Acute Cardiovascular Care, orang yang geram secara intensif akan tingkatkan resiko sampai 8,5 kali terserang penyakit serangan jantung. Berhati-hati, penyakit serangan jantung sering berlangsung saat seorang sedang geram atau membludakkan semua emosinya.

Waktu geram orang condong gampang alami stress dan berduka dibanding seseorang. Sebab waktu geram, umumnya pemikiran orang akan terpusat dengan objek amarahnya. Mereka jadi lupa jika, dibandingkan geram ada banyak hal yang lain yang perlu dituntaskan. Karena itu tidak boleh bingung pemarah lebih gampang terusik atas beberapa hal yang tidak dicintainya.

Dengan mengendalikan diri untuk tidak geram, badanmu pasti akan sedikit mudah sebab otot-otot badan tidak menegang sebab geram-marah. Akhirnya kami makin lebih santai lalui hari. Tidak pusing kembali.

Catatan Kecil Tentang Pagi. Ketika Kita Terlalu Sibuk Memikirkan Esok Hari

Pagi hari diakhir minggu. Saat yang pantas disyukuri bila sekarang ini kamu masih guling-guling di atas kasur empukmu. Tidak harus cepat-cepat mandi dan pergi kerja saat kantormu cuman mengaplikasikan mekanisme 5 hari kerja saja.

“Ini hari ingin ngapain, ya? Mending kelarin kamar, jalanan, atau tidur saja sepanjang hari?”

Kemungkinan, pertanyaan jenis itu yang ada pada kepalamu. Hal bagaimana kamu akan nikmati dan menandaskan waktu di liburan akhir pekanmu. Kasus yang simpel apabila kamu juga tengah merasainya, yakinlah jika kamu masuk kelompok beberapa orang yang mujur.

Ya, mujur sebab apa yang kamu pikir tidak akan berapa melelahkan, pemikiran, dan emosimu. Sesaat ini hari, pagi hari ini, saya malah sedang belingsatan menyikapi beberapa pertanyaan yang penuhi kepalaku sendiri;

“Mengapa ini hari saya masih bangun dengan keadaan yang tidak berbeda jauh dari hari-hari awalnya? Tidakkah di umur yang saat ini minimal saya bisa punyai kehidupan yang semakin dapat membuatku berbangga?

Tanpa pekerjaan yang prospektif, kendaraan individu, rumah dambaan, sampai seorang pengiring hidup mimpi – apa kekhawatiran yang pagi hari ini saya rasakan kedengar terlalu berlebih?”

saat kita begitu repot meresahkan keesokan hari lewat imgarcade.com

Entahlah salah atau benar, tetapi kemungkinan ada beberapa orang rasakan kegundahan yang serupa. Sadar atau mungkin tidak, kita dibesarkan dan terdidik selalu untuk pikirkan beberapa hal yang akan berlangsung di hari esok. Ayah atau ibu kelihatannya tidak capek merapal kalimat seperti ini;

“Sekolah yang rajin ya, Nak! Agar pandai dan bisa saja orang berhasil nanti.”

atau kalimat ini yang mereka dengungkan waktu kamu akan masuk perguruan tinggi,

error: Content is protected !!