Cerita 5 Guru Honorer Tentang Gaji yang Tak Turun dan Alasan Mereka Tetap Bertahan

Beberapa lalu saya sempat membaca cerita guru honorer di Konawe Selatan yang perlu jalan kaki 11 km sehari-harinya untuk mengajarkan. Dengan upah Rp300.000/bulan yang cuman diterima tiga bulan sekali, beli kendaraan untuk pengerahan setiap hari begitu berat untuknya. Lantas di Bengkulu dan Pontianak, ada pula guru honorer yang dibayarkan dengan beberapa kg beras dan perkataan terima kasih. Cerita-kisah itu cuma beberapa kecil dari tepian dunia pengajaran kita yang mengundang risau.

Dengan rintangan seberat itu, dan pendapatan yang serupa sekali yang tidak sebanding, kemungkinan kita jadi bertanya: Kok ingin bertahan? Berikut lima guru menceritakan mengenai senang duka jadi guru honorer dan mengapa mereka bertahan walau upah baru turun 3 bulan sekali.

Sejauh ini kita memikir jika mengajarkan di sekolah swasta pendapatannya semakin tinggi dibandingkan di sekolah negeri. Tetapi, rupanya tidak selalu demikian. Untuk sekolah ke bawah yang tingkat menengah ke bawah, jadi guru honorer di situ sama juga dengan sekolah negeri. Honor dihitung perjam mengajarkan, dengan nominal yang tidak berapa besar.

Beberapa lalu, bekas menteri pengajaran Muhadjir Effendy sempat keluarkan pengakuan yang polemis: “Jika saat ini upahnya sedikit, apa lagi guru honorer, cicipi saja, kelak masuk surga.” Penglihatan ini terang membuat prihatin. Memang, guru ialah karier mulia yang pekerjaannya mencerdaskan anak negeri. Tetapi karier guru punyai keharusan dan tanggung jawab yang demikian besar. Tidakkah sepantasnya hal tersebut lebih dihargai dan dipandang kembali?

Jika ditanyakan, mengapa sich masih ingin jadi guru honorer, jika apresiasinya umumnya tidak pantas? Kemungkinan tiap orang punyai jawaban sendiri-sendiri. Ada yang suka mengajarkan dan berjumpa siswa dan rekanan pendidik lain cukup menyenangkan hati. Hingga upah yang tidak berapa tidak begitu memberatkan. Banyak pula yang mau tak mau terima keadaan ini, karena tidak dapat melakukan perbuatan apa-apa. Ini adalah tingkatan yang perlu dilalui, sambil mengharap hari esok mereka makin lebih dihargai kembali.